Kisah Kyai Pamungkas

Kisah Kyai Pamungkas: TRAGEDI TELUR RAJA JIN ULAR CISELA

Kisah Kyai Pamungkas:
TRAGEDI TELUR RAJA JIN ULAR CISELA

Rahmi adalah ibu rumah tangga yang tinggal dengan suami dan seorang putra, serta bermukim di Cidaun, Cianjur. Seperti umumnya orang kampung di Cianjur, Rahmi dan suaminya bekerja sebagai petani, dan sesekali suaminya menjadi buruh kasar atau pekerja bangunan. Rumah tangga yang terhitung rukun, sehari-hari mereka lalui dengan segala keterbatasannya. Tapi, keadaan itu tak pernah sedikit pun merubah pendirian Rahmi atas suaminya, Tatang. la begitu mencintai Tatang, lelaki yang tergolong miskin di desanya. Untuk membantu meringankan beban rumah tangga mereka, Rahmi ikut membantu Tatang bekerja di sawah atau di kebun. Bahkan saat tak ada pekerjaan di sawah atau ketika Tatang bekerja sebagai buruh bangunan, Rahmi tetap membantu sang suami dengan mencari kayu bakar atau rumput laut di batu-batu karang pantai Cisela. Suatu kegiatan yang sebenarnya telah dilakukan jauh sebelum dirinya menikah dengan Tatang.

Hari itu, seperti biasa, sekitar pukul 14.00 WIB dan seusai mencari rumput laut, Rahmi dan beberapa orang tetangganya pun pulang. Langkah demi langkah ia ayunkan menyusuri pantai selatan Cianjur yang terjal dan dipenuhi karang-karang tajam. Sampai akhirnya, ayunan langkah gontai Rahmi tiba di hamparan pasir luas di muara sungai Cisela. Satu demi satu teman-teman Rahmi menyeberangi sungai lebar dengan kedalaman sekitar satu meter itu. Rahmi sendiri berada di urutan ke lima dari duabelas orang temannya yang lain.

Tiba di seberang sungai, mata Rahmi tertuju pada seonggok pasir yang berada jauh dari pinggir sungai. Nyaris di semak belukar. Di sana, tampak beberapa butir telur yang tersamar oleh tumpukan pasir. Walau belum pernah melihat bentuk telur penyu, tetapi, benaknya membayangkan bahwa yang dilihatnya pasti telur penyu. meski sesungguhnya Rahmi tak pernah melihat bentuk telur penyu. Bergegas Rahmi menuju tumpukan pasir dan mengaisnya. Di sana, ia menemukan 3 butir telur. Senyum kegembiraan tampak menghiasi wajah manis Rahmi. Sementara, teman-temannya hanya terpaku melihat Rahmi memasukan telur-telur itu ke dalam tasnya.

“Telur apa itu Mi?” Tanya seorang di antara mereka.

“Telur penyu,” jawab Rahmi singkat.

Tanpa banyak basa-basi Rahmi dan teman-temannya melanjutkan perjalanan yang tinggal separuh jalan lagi. Terbayang di benaknya, betapa bahagia anak dan suami nya saat ia pulang nanti, telur itu akan digoreng dan menjadi hidangan nikmat keluarganya. Maklum, hari-hari biasanya santapan mereka tak jauh ikan asin, lalap dan sambal terasi.

Karena di rumah, Rahmi tak menemukan suami dan anak semata wayangnya, maka, dengan bergegas ia membersihkan diri dan berpakaian seperlunya. Setelah itu, ia ke dapur untuk menyalakan api untuk menggoreng telur yang tadi didapatkan. Dan beberapa menit kemudian, telur itu ia pecahkan dan dimasukan ke penggorengan. Tapi apa yang terjadi? Ketiga butir telur yang ia buat dadar itu membesar memenuhi wajan! padahal biasanya, hanya memenuhi seperempat wajan saja. Namun, akal sehat Rahmi telah terpengaruh oleh kebahagiaan yang memenuhi dadanya. Tanpa berpikir panjang, Rahmi kemudian mengangkat telur dadar itu, meletakkannya di atas piring dan membelahnya menjadi beberapa potong.

Terdorong oleh rasa lapar yang telah menggelitik perutnya, tanpa menunggu suami dan anaknya pulang, akhirnya, Rahmi pun makan terlebih dahulu. Sesuap demi sesuap Rahmi mengunyah nasi dan telur dadar buatannya. Nikmat, sungguh nikmat telur dadar ini, begitu bisik hatinya sambil terus menyantap.

Usai makan, rasa kantuk yang bukan alang kepalang pun menyerangnya. Matanya seolah tak sanggup lagi dibuka, akhirnya ia pun bergegas menuju ke biliknya dan tidur.

Waktu terus berlalu. Tak terasa, Rahmi masih tertidur hingga menjelang maghrib saat suami dan anaknya datang. Uluk salam dari suami dan anaknya tak ada yang menjawab. Begitu pun saat Tatang berteriak memanggil-manggil nama isterinya. Dan tanpa berpikir yang bukan-bukan, Tatang langsung saja membuka pintu dan masuk ke gubuk itu bersama anaknya. Setibanya di dalam, sambil terus memanggil-manggil isterinya, bergegas Tatang menuju ke biliknya.

Dan apa yang terjadi? Setibanya di dalam, ia melihat tubuh isterinya tergeletak di atas balai dengan perut membuncit dan mata melotot tak berkedip. Bahkan, dari mulut Rahmi keluar cairan putih seperti busa sabun. Sedang tangan dan kakinya tampak kaku. Melihat keadaan itu, dengan cepat Tatang menghampiri dan mengguncang-guncangkan tubuh isterinya. Dan Tatang semakin tak mengerti ketika melihat kulit tangan dan wajah isterinya bersisik. Seperti sisik ular! Berkali-kali Tatang menyebut asma Allah sambil mengelus wajah dan sekujur tubuh Rahmi. “Rahmi, ada apa? Apa yang telah terjadi?” Berondongnya. Jangankan menjawab, berkedip pun tidak.

Beberapa saat lamanya Tatang dan putranya termangu. Begitu kesadaran merasuki benaknya, Tatang pun berlari ke luar sambil berteriak meminta tolong kepada tetangganya. Teriakan Tatang membuat satu dua orang tetangganya bergegas datang. Dan setibanya di sana, mereka pun tak dapat berbuat apa-apa. Dengan perasaan getir, mereka melihat keadaan Rahmi. Sambil sesekali memegang tangan atau kaki Rahmi, tanpa putus, mereka pun melantunkan do’a. Dan atas inisiatif seorang tetangga, mereka pun menggotong dan membaringkan tubuh Rah. mi di tengah rumahnya yang agak luas.

Tak lama berselang, tiba-tiba Rahmi menggerakan tangan dan kakinya. Matanya melirik ke arah suami, anak serta para tetangga yang mengelilinginya. Mata itu terlihat aneh, seperti bukan tatapan Rahmi yang sebenarnya. Dalam keadaan tegang seperti itu, terdengar Rahmi bergumam. Tapi, gumaman Rahmi sekali ini terdengar asing di telinga mereka. Seperti suara berat nenek-nenek. Kecurigaan para tetangga tertuju pada kejahatan ilmu santet yang sengaja dikirimkan oleh seseorang untuk mencelakai Rahmi.

Kecurigaan itu tak berlangsung lama. Rahmi kembali berkata dengan suara berat nenek-nenek yang setengah menghardik, “Siapa kalian, dan mengapa mencelakai anak cucuku?”

Sadar dengan keadaan Rahmi yang tengah dirasuki makhluk jahat, Tatang segera berlari ke rumah kepala kampung yang juga dikenal sebagai orang pintar. Tak menunggu waktu lama, akhirnya, Tatang kembali dengan Ki Marta. Melihat keadaan Rahmi yang mengkhawatirkan, Ki Marta langsung duduk di sisi kanan perempuan malang itu. Mulutnya komat kamit membacakan beberapa ayat suci Al Qur’an sambil tangan kirinya memegang segelas air putih. Selanjutnya, air itu diusapkan Ki Marta ke wajah Rahmi. Tapi apa yang terjadi? Wanita malang itu mengaum marah, matanya membelalak ke arah Ki Marta yang duduk bersila di sisi kanannya.

“Siapa kamu? Tanya Ki Marta kemudian.

“Aku adalah penguasa muara Cisela. Manusia mengenalku dengan nama jin ular raja Cisela,” jawab suara yang keluar dari mulut Rahmi.

“Lalu mengapa kamu mengganggu Rahmi?” Lanjut Ki Marta.

“Dia yang telah mengganggu keturunanku. Dia telah membinasakan anak cucuku?” Jawab siluman ular itu. “Kembalikan keturunanku ke tempat asalnya, baru aku akan keluar dari raga ini,” lanjutnya.

Seorang perempuan yang tadi siang ikut mencari rumput laut bersama Rahmi, sadar dengan kejadian yang tengah mereka hadapi. la lalu menceritakan kepada Ki Marta bahwa tadi siang Rahmi menemukan beberapa butir telur yang disangkanya telur penyu. Mungkin telur itulah yang dimaksud siluman ular sebagai keturunannya. Ki Marta pun mulai menerawang. Matanya terkatup dan mulutnya kembali komat kamit.

“Ya, dia telah memakan telur ular siluman yang ditemukan di muara itu,” jelas Ki Marta.

Tatang yang duduk di samping kanan Ki Marta lalu pergi ke dapur untuk memeriksa. Dan benar, ternyata, telur itu telah tersaji di meja. Bahkan piring bekas makan Rahmi yang belum sempat tercuci pun ada di sana. “Oh Rahmi, kenapa kamu tidak menyadari hal ini,” keluh Tatang menyesali tindakan istrinya.

Beberapa saat kemudian, Ki Marta kembali menerawang dan berkomunikasi dengan siluman ular yang telah menguasai raga Rahmi. “Apa yang harus kami lakukan untuk menebus kesailahan ini?” Tanyanya.

“Kembalikan keturunanku?” Jawabnya.

“Bagaimana caranya? Apalagi telur itu sudah digoreng dan dimakan,” kembali Ki Marta bertanya.

“Kalau begitu aku akan membawa Rahmi sebagai penggantinya,” tukas siluman ular.

Tak lama setelah itu, tubuh Rahmi terlihat kejang. Bahkan, tangan dan kakinya bergetar hebat seperti menahan sakit yang teramat sangat. Matanya melotot seperti hendak keluar. Dan setelah Ki Marta membacakan beberapa ayat suci Al Qur’an di telinga Rahmi, ia pun terkulai lemah. Akhirnya, Rahmi meninggal dunia dengan mata melotot karena menahan sakit dan kengerian yang luar biasa. Sebuah drama kehidupan yang amat tragis dialami Rahmi dan keluarganya.

Esoknya, Rahmi dimakamkan di pemakaman umum tak jauh dari rumahnya. Kematian Rahmi yang tragis tentu saja menggegerkan kampung halamannya yang tak jauh dari pantai Jayanti, Cidaun. Puluhan orang mengantarkan Rahmi ke tempat peristirahatan terakhirnya dengan perasaan sedih, takut dan entah apalagi yang mereka rasakan. ® #KyaiPamungkas.

Paranormal Terbaik Indonesia

Related posts

Kisah Kyai Pamungkas: Santet Benga, Pembawa Petaka Keluarga

Kyai Pamungkas

Kyai Pamungkas: Mistis di Dunia Malam (1)

Kyai Pamungkas

Kisah Kyai Pamungkas: Misteri Curug Lalay

Kyai Pamungkas
error: Content is protected !!