Rona-rona

Kediri, Kota Sejuta Misteri

KEDIRI, KOTA SEJUTA MISTERI

Tak banyak yang menyadari jika Jalan Dhoho yang membelah jantung Kota Kediri, Jawa Timur, sudah ada semenjak zaman Majapahit atau permulaan 1184 M. Dan waktu itu Kediri masih bernama Kadhiri yang merupakan ibukota dari kerajaan kecil yang bernama Gelang-gelang.

Dan karena aliran Sungai Brantas bisa dilayari sampai kota Blitar, maka, oleh R. Wijaya yang akhirnya dikenal sebagai Sri Paduka Kertarajasa menjadikan Kediri sebagai bandar utama. Dan sudah sejak lama, berbagai hasil bumi dari wilayah sekitar kota “tahu” (Blitar, Tulungagung dan Trenggalek) selalu singgah di Kediri sebelum diperdagangkan ke kota raja (Mojokerto) atau ke Ujung Galuh (Surabaya).

Dan ketika Kaisar Khu Bilai Khan melakukan penyerangan ke Singosari yang pada akhirnya dibelokkan ke Kediri oleh R. Wijaya, maka, tragedi sempat memporakporandakan kota. Pada akhirnya, garnisun serdadu Tartar yang kala itu menguasai kota dihabisi oleh rakyat. Bangkai mereka berceceran di pinggiran Sungai Brantas. Menurut prakiraan dan beberapa sumber yang Iaik dipercaya, saat itu, kaisar dari Tiongkok mengirim lebih dari 10.000 serdadu yang diangkut lebih dari 1.000 kapal perang. Dan selanjutnya, dua pertiga dari serdadu itu terus melanjutkan perjalanan ke kotaraja Majapahit sementara sepertiganya dibantai di tanah Kediri.

Berangkat dari kisah itu, wajar jika di hampir setiap sudut kota Kediri penuh dengan aura gaib arwah gentayangan dari pasukan Khu Bilai Khan yang terbunuh. Seiring dengan berjalannya waktu, fenomena mistik pun terus belanjut hingga tahun 1965. Di mana saat itu banyak orang komunis yang “dijagal” dan jasadnya dibuang ke Sungai Brantas.

Menurut buku Palu Arit di Padang Tebu, karangan Dr. Hermawan Sulistya (1999), hampir tiap hari, aliran Sungai Brantas dipenuhi oleh bangkai manusia tak berkepala. Dan sungguh tak dinyana, di dalam peristiwa G 30 S/PKI, daerah Kediri ternyata yang paling parah ketimbang daerah yang lainnya.

Jika dilihat dari kacamata supranatural, kini, arwah-arwah gentayangan itu berkumpul dan membentuk komunitas di dua titik. Yakni di kolong Jembatan Lama yang dibangun pada saat pemerintahan Hindia Belanda berjaya, dan di ruas Jalan Dhoho.

“Raja siluman itu bernama Brojodento di mana keratonnya terdapat di Jembatan Lama. Maka dari itu jangan heran jika aliran Sungai Brantas yang membelah kota ini sangat wingit. Angker. Jadi berhati-hatilah,” tutur mbah Drono Mukti, 65, dari Gampengrejo.

Dan lebih lanjut dikatakan, “Jika malam, koloni siluman ini akan berkeliaran ke Jalan Dhoho dan sekitar Jalan Patimura. Tugas mereka adalah mempengaruhi orang-orang yang tidak kuat imannya untuk berbuat jahat.”

Pendapat ini tak salah! paranormal-indonesia.com pun teringat akan kisah mistik Sumo Bawuk yang mengajarkan murid-muridnya harus memperkosa 7-40 perawan agar ilmunya dapat mumpuni. lnilah salah satu bentuk kekuatan mistik yang menyungkupi masyarakat kota Kediri yang dalam kesehariannya memiliki karakteristik lumayan unik. Yakni, perpaduan antara masyarakat santri dan abangan. Di mana pada belahan barat kota tampak dengan jelas berdiri pondok-pondok pesantren, sementara pelaku kebatinan juga tumbuh dengan subur. Bahkan, diam-diam banyak praktek perdukunan dari berbagai aliran terus saja berlangsung.

Sebenarnya, yang paling menarik untuk dijadikan bahan kajian adalah sifat masyarakat Kediri yang demikian familiar. Mereka rata-rata ramah dan suka menolong. Menurut tutur, hal ini karena diilhami oleh karakteristik gaib Putri Kediri yang hidup di masa lalu. Agaknya, hal inilah yang menyebabkan kenapa gadis-gadis Kediri terkenal cantik dan mudah bergaul tapi berkat hawa mistik yang dihembuskan oleh para siluman tadi, maka, bagi yang beriman tipis akan mudah larut atau terjebak oleh jerat perselingkuhan.

Jembatan Lama yang diyakini banyak dihuni oleh peri dan kuntilanak, ternyata bukan sekadar isapan jempol belaka. Akibatnya, para pemancing harus berpikir dua kali jika akan memancing di lokasi itu. Khususnya di malam hari. Dengan kata lain, hanya yang bernyali besar saja yang berani memancing di sana. Dan suatu peristiwa yang mampu menggeridikkan bulu roma ternyata pernah dialami oleh Turmudi yang mukim di Desa Ngronggo. “Saya sering bertemu dengan peri saat memancing di timur makam Bandar Lor. Awalnya saya mengira para perempuan itu masyarakat biasa yang mau buang hajat ke Brantas. Tahu-tahu, mereka langsung menceburkan diri ke sungai yang berarus cukup deras itu. Saya sempat terkecoh, karena satu di antara mereka sepertinya mau tenggelam. Tak ayal saya langsung menolong dengan menceburkan diri ke sungai di tengah malam yang dingin. Eh .. tiba-tiba, gadis cantik yang mau tenggelam itu tertawa berkepanjangan dengan nada yang mengerikan,” papar lelaki yang hampir saban malam memancing di Jembatan Lama.

Berbeda dengan yang dialami Purwanto, warga Kelurahan Banjaran. Pada suatu ketika, dengan mata kepala sendiri ia melihat ada seekor buaya putih sedang berenang di dekat Rumah Makan Dermaga. Diam-diam, lelaki yang dalam kesehariannya bekerja serabutan di Pasar Bandar, terus saja mengamati gerak-gerik si buaya putih yang terus berenang ke arah tepian sebelah timur. Dan sesampainya di tepian, mendadak, si buaya putih berubah ujud menjadi wanita cantik bertubuh aduhai dan melambai-lambaikan tangannya ke arah Purwanto.

“Saya langsung ambil Iangkah seribu. Dan sampai sekarang, saya tak pernah berani memancing sendirian. Hiii …!” Ungkapnya dengan wajah ketakutan akibat teringat akan peristiwa yang dialaminya.

Fauzan, 23, yang juga salah satu santri dari Ponpes di Kota Kediri pernah melakukan investigasi untuk mengetahui titik-titik gaib yang ada di sepanjang alur Sungai Brantas. Di malam Jum’at Kliwon, ia sengaja tidak tidur. Dan setelah mendirikan shalat malam, ia pun menyusuri sungai yang terbesar dan terpanjang di bilangan Jawa Timur. Menurutnya, “Titik gaib yang terkuat justru ada di belakang Pabrik Kertas Surya Pamenang, Gampengrejo! Di tempat itu saya pernah berjumpa dengan barisan berseragam hitam tanpa kepala yang bergerak ke arah selatan, dan hilang di Jembatan Lama. Saat itu Brantas sedang meluap, sebab hujan turun hampir sepanjang malam. Siluman-siluman itu bisa jadi gabungan antara arwah di zaman PKI dan serdadu Tar-Tar.”

Paranormal-indonesia.com mengangguk tanda setuju dan dalam hati mengagumi kepiawaian santri muda yang berasal dari Sumenep, Madura, yang diam-diam ternyata memiliki banyak kelebihan. Terutarna dalam hal mendeteksi keberadaan makhluk gaib.©️ KyaiPamungkas

Paranormal Terbaik Indonesia

Related posts

Mengaungkap Kayu Berkhasiat: Bambu Buntet

Kyai Pamungkas

Batu Bertuah: Batu Fosil

Kyai Pamungkas

Batu Bertuah: Batu Badar Besi

Kyai Pamungkas
error: Content is protected !!