Cerita

Kisah Kyai Pamungkas: Sumur Tujuh Pembuka Aura

Di salah satu sudut Kota Subang, di tengah-tengah perkebunan dan hamparan sawah nan menghijau, Kyai Pamungkas terus melangkah untuk menelusuri bekas-bekas kejayaan di masa lampau yang sampai sekarang diyakini banyak orang masih menguarkan aroma mistis yang teramat kuat.

Sumur tujuh, demikian kata banyak orang yang mukim di seputaran sana. Tempat yang tepat memang sengaja tidak boleh ditulis jelas, karena, hanya mereka yang beruntung dan memiliki keinginan kuat dan tulus saja yang bisa menemukan tempat yang satu ini.

Banyak yang meyakini, setelah mandi di tempat yang satu ini, maka, aura tubuh pun akan memancar dengan kuat. Pengakuan ini Kyai Pamungkas dapatkan dari salah seorang narasumber yang mengaku bernama Surya, 34 tahun, Ielaki asal Banten, yang kini menjadi salah satu marketing manajer di salah satu perusahaan elektronik terkenal di Jakarta.

”Mulanya saya tak pernah menyangka, atas izin Allah, dan setelah mandi di sumur tujuh, mendadak, apapun yang ditargetkan oleh perusahaan dapat tercapai dengan mudah”, akunya pada Kyai Pamungkas.

“Itulah yang membuat saya sekarang diangkat menjadi manajer”, imbuhnya datar.

Aura mistik yang menguar di tempat yang satu ini memang terasa demikian kuat. Betapa tidak, pada masanya, tempat yang satu ini acap digunakan oleh Nyi Subang Larang untuk berwudhu atau membersihkan tubuh. Tak jauh dari tempat itu, terdapat sebuah air terjun yang juga tak kalah keramatnya.

Menurut Sarpin, 57 tahun, salah seorang penduduk; “Menurut cerita orang-orang tua, di sini, dahulu, terdapat sebuah kerajaan besar. Bukti tentang keratin bisa dilihat dari banyaknya batu-batu bata berukuran besar yang terpendam di tengah-tengah sawah warga”.

Sambil menggamit Kyai Pamungkas, Abah Sarpin pun mengajak Kyai Pamungkas untuk menyusuri jalan setapak menuju ke Sumur Tujuh yang keramat itu. Setibanya di sana, setelah menata ubo rampe yang dibawa, Kyai Pamungkas membuka tirai gaib yang menyungkupi tempat itu. Seiring dengan bersatunya cipta, rasa, karsa dan karya, kini, di depan Kyai Pamungkas berdiri seorang putri cantik yang mengaku bernama Nini Seruni yang langsung bertanya apa maksud kedatangan Kyai Pamungkas.

Setelah uluk salam dan memperkenalkan diri serta mengutarakan maksud, Nini Seruni pun berkata; “Semua adalah karena Allah. Mintalah kepada-Nya dengan tekun, maka, pasti akan dikabulkan”.

Ketika Kyai Pamungkas menanyakan tentang kekeramatan sumur tujuh, kembali Nini Seruni menjelaskan; “Ini semua karena Allah. Oleh sebab itu, yang bisa menemukan tempat ini hanya yang punya keinginan kuat dan tulus”.

“Selanjutnya, kekeramatan air sumur tujuh adalah karena permintaan Nyai Subang Larang, ketika ia kebingungan mencari air untuk berwudhu. Tak lama kemudian, di tempat itu, mengalir tujuh aliran air dari satu sumber yang akhirnya dikenal sebagai sumur tujuh. Pada saat itulah Nyai Subang Larang berkata; siapa pun yang dengan tulus dan punya niatan kuat untuk mandi atau wudhu di sini, bakal mendapatkan karunia dari Allah”, imbuhnya menerangkan.

“Jadi, tidak sembarang orang bisa dating kesini?” Tanya Kyai Pamungkas.

“Tidak”, jawab Nini Seruni singkat.

“Saya akan mengusir siapa pun yang datang dan memiliki niat tidak baik”, tambah Nini Seruni dan kemudian kembali ke alamnya.

Seiring dengan desiran angin yang menerpa tubuh, Kyai Pamungkas pun kembali tersadar. Abah Sarpin yang dengan setia menemani juga menambahkan; “Beberapa bulan lalu, tepatnya sekitar Januari, ada dua orang dari Cirebon yang datang ke tempat ini untuk mengambil keris Nagapercona dan akik kecubung wulung yang ada tepat di mata air”.

“Hasilnya?” Potong Kyai Pamungkas penasaran.

”Keduanya lari tungganglanggang karena dikejar oleh seekor naga dan sekelompok macan loreng. Di tengah sawah itu. keduanya tak sadarkan diri”, jawab Abah Sarpin.

“Yang membuat semua warga kampung kerepotan, begitu sadar, keduanya selalu berteriak teriak ketakutan”, tambahnya lagi.

“Dahulu, ketika judi buntut sedang marak. ada seseorang yang datang dan sengaja bertapa di sumur tujuh untuk mendapatkan nomor Jitu. Hasilnya juga sama, setelah terlempar beberapa meter dari situ, orang tersebut juga menceracau tidak karuan. Yang kami dengar, katanya, orang itu gila dan tidak bisa disembuhkan,” papar Abah Sarpin panjang lebar.

Kyai Pamungkas hanya mengangguk angguk. Sesungguhnya, ketika mulai memasuki areal perkebunan pinus, aroma mistis sudah mulai terasakan. Di kiri kanan jalan, kelebat bayangan seolah mengikuti kemana kaki kita melangkah. Hal itu dibenarkan oleh salah seorang jagawana yang bertugas di tempat itu; “walau siang, kita seolah diawasi oleh penunggu gaib tempat ini. Tujuannya agar kita tidak melakukan hal hal yang tidak senonoh di tempat yang konon merupakan petilasan dari salah satu kerajaan Sunda di masa lalu. @Kyai Pamungkas 0857-4646-8080

Related posts

Ijazah Kyai Pamungkas: Pengasihan Asma Khodam, Silahkan Diamalkan

Kyai Pamungkas

Cara Mudah Menarik Benda Pusaka

Kyai Pamungkas

Ijazah Kyai Pamungkas: Penarik Jodoh, Silahkan Diamalkan

Kyai Pamungkas