Panggonan Wingit: MASJID RIDWAN & MASJID ABU BAKAR SIDDIQ, MASJID ‘CHINA’ DI LOMBOK
Islam sebagai agama Rahmatan lil a’lamin memberi dampak yang sangat baik bagi kehidupan umat beragama. Berbagai unsur kehidupan masyarakat yang bersumber dari budaya masyarakat setempat bisa diadopsi sepanjang tidak berseberangan dengan sendi-sendi ajaran agama. Itu pula yang dilakukan H. Muhammad Maliki dalam membangun mushola dengan mengadopsi gaya arsitektur Tionghoa.
Mushola yang dibangun H Muhammad Maliki ini berada di dua tempat. Satu mushola dengan nama Abu Bakar Shiddiq berada di Dusun Sangiang Desa Langko Kecamatan Lingsar dan satu mushola dengar nama Ridwan berada di Dusun Jurang Malang Desa Pakuan Kecamatan Narmada Kabupaten Lombok Barat. Pembangunan kedua mushola itu tak lepas dari mimpi yang dialami H Muhammad Maliki dan istrinya.
Diceritakan, pada suatu malam di tahun 1989, Ang Thian Kok (67) bermimpi didatangi sejumlah kyai. Pada malam yang lain, istrinya Tee Mai Fung bermimpi membaca dua kalimah syahadat. Rupanya, mimpi itu menjadi titik balik kehidupan bagi suami istri etnis Tionghoa ini. Hingga pada tanggal 18 Mei 1989, keduanya bulat bertekad menjadi mualaf. Sejak saat itu, Ang Thian Kok berganti nama menjadi Muhammad Maliki sedang istrinya Tee Mai Fung berganti nama menjadi Siti Maryam.
Sebelum memutuskan Islam menjadi pegangan hidupnya, Muhammad Maliki sering mendengarkan ceramah dari salah satu stasiun radio. Dalam ceramahnya, sang dai berujar sesama muslim itu bersaudara. Kalimat sesama muslim bersudara itulah yang selalu terngiang. “Kalau begitu, seluruh manusia yang beragama Islam adalah bersaudara. Sungguh, sangat bahagia punya saudara seluruh dunia,” suara batinnya.
Kalimat muslim adalah bersaudara terus mengusik batinya. Hingga dalam waktu luangnya ia selalu melakukan diskusi bersama istri. Ketika semakin tertarik dengan ajaran Islam, ia pun berdiskusi dengan temannya H. Saleh yang berasal dari Bonjeruk Lombok Tengah. Dalam diskusi itu, H Saleh malah menyarankan agar ia segera mengikrarkan ke-Islam-annya.
Pada malam Jum’at tepatnya 18 Mei 1989, ia mendapat undangan dari H Saleh di Bonjeruk. Ternyata, sahabatnya itu telah mengundang masyrakat dan tokoh agama yakni TGH Hukum (Alm) dalam rangka pengikraran keislamannya. Tidak hanya itu, H Saleh pun telah meyiapakanroah (syukuran). Dengan disaksikan masyarakat sekitar, akhirnya Ang Thian Kok bersama istri mengucapkan dua kalimat sahadat. “Untung saya sudah belajar membaca sahadat,” terangnya mengenang ikrar ke-Islam-annya yang mendadak.
Sebagai ungkapan syukur atas keislamannya, H Maliki menggelar dua kali syukuran. Syukuran pertama dilaksanakandi Kediri pada 20 Mei 1989 di tempat Raden TGH Muhammad Idris (alm) pengajar di pondok pesantren Islahudin dan pada 1 Juni 1989 di masjid At=Taqwa dihadiri H Ahmad Usman pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) NTB.
Perjalanan sebagai mualaf dilalui dengan sungguh-sungguh. Bersama keluarga, H. Maliki terus memperdalam dan melaksanakan ajaran Islam secara sungguh-sungguh. Hingga pada 1990, ia bersama istrinya menunaikan ibadah haji. Pada 1993, ia kembali melaksanakan ibadah haji untuk yang kedua kalinya.
Dalam mewujudkan dakwah amaliahnya, H. Maliki kemudian membangun mushola dengan gaya arsitektur Tionghoa. Saat itu, sekitar 2009, ia mendapat majalah yang diterbitkan Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI). Dalam salah satu artikelnya, majalah itu menampilkan liputan masjid unik yang dibangun oleh yayasan HM Ceng HO Surabaya Jawa Timur. Melihat gaya arsitektur masjid yang unik, H. Maliki merasa tertarik dan ingin membuat hal serupa.
Setelah yakin, ia kemudian memanggil temannya seorang arsitek. Saat berlangsung pertemuan, ia mengajukan pertanyaan, “Side (Anda) bisa buat yang seperti ini?”tanya H Maliki kepada temannya sambil menyodorkan majalah PITI dengan liputan masjid Ceng Ho tersebut. “Gampang” jawab temannya. Setelah ada kesepakatan, mushola pun dibangun di daerah Jurang Malang di lahan yang terlihat lebih tinggi dari area sekitarnya.
Setelah selesai pembangunan mushola, pun membuat plang dengan nama Mushola Maliki. Setelah 3 hari plang di pasang, malamnya ia bermimpi. Dalam mimpinya, H. Maliki ikut lomba ambil kelapa muda. Ternyata ia menjadi pemenang dan setelah kelapa itu dipecah dan diminum airnya, terlihat tulisan Ridwan. Tak menunggu lama, paginya ia langsung meminta penjaga mushola, Satral untuk segera menurunkan plang Maliki dan diganti dengan Ridwan. Sejak itu, nama mushola yang berada di Jurang Malang bernama mushola Ridwan.
Diakui Maliki, Mushola Ridwan sudah mengalami dua kali renovasi hingga ke bentuknya yang sekarang. “Awalnya tidak begitu, kemudian saya renovasi. Bentuk sekarang ini merupakan hasil renovasi yang kedua,” jelas H Maliki.
Berbeda dengan mushola Ridwan. Mushola Abu Bakar Shiddiq yang berdiri di atas lahan seluas 66 Are dan berada di Dusun Sangiang Desa Langko dibangun atas ilham istrinya, Siti Maryam usai mengunjungi negeri tirai bambu. Saat kunjungan ke Beijing, Siti Maryam sempat memasuki taman Tian Tan Yen, sebuah taman yang di dalamnya ada satu bangunan sebagai tempat peribadatan warga Tionghoa Biasanya, warga Tionghoa yang melakukan peribadatan selalu mengelilingi bangunan itu sebanyak sembilan kali sebelum berdoa. “Kalau umat Islam melakukan tawaf di Ka’bah kan 7 kali, kalau mereka ‘tawaf’nya 9 kali,” terang Maliki.
Setelah ada diskusi, kemudian H. Maliki bersama istri sepakat untuk membangun mushola seperti yang ada di taman Tian Tan Yen. Tepat tanggal 29 Februari 2012 dibangunlah mushola Abu Bakar Shiddiq di Dusun Sangiang Desa Langko. Di mana, mushola berbentuk unik itu disekelilingnya terdapat air seakan mushola berada di atas air.
“Rencananya, kita akan rehab lagi, biar mushola ini lebih sesuai dengan gambar yang kita buat,” terang Maliki yang didampingi pengurus mushola, H. Farhan.
Seiring perjalanan waktu, ternyata kegiatan keagamaan semakin berkembang. Kegiatan keagamaan seperti dakwah tidak hanya berlangsung di mushola Abu Bakar Shiddiq dan Ridwan tapi juga di mushola yang ada ditempat tinggalnya di Selagalas. Hingga kini, tak kurang dari 200 kyai, ustad atau tuan guru selalu bergantian memberikan pencerahan ruhani kepada masyarakat.
“Mungkin ini makna mimpi didatangi sejumlah kyai,” ucapnya.
Bahkan kegiatan mushola Abu Bakar Shiddiq di Langko dan mushola Ridwan di Jurang Malang semakin bertambah. Jika awalnya hanya kegiatan rutin keagamaan, kini sudah ada pembelajaran diniyah (membaca Al-Qur’an) dan juga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).
Mengenai apa yang dilakukannya dalam syiar Islam, H. Maliki mengaku sangat senang jika hidupnya bermanfaat bagi agama dan masyarakat. la pun bertekad akan terus berjuang memajukan Islam dengan berbagai upaya. “Kalau untuk Islam, saya gak pakai hitung-hitung. Saya senang kalau umat Islam bisa maju,” kata H Maliki.
NIKAH DAPAT KAMBING
Sebagai bentuk muamalah kepada sesama muslim terutama mereka yang siap mengarungi bahtera rumah tangga, H Maliki akan memberikan bantuan satu ekor kambing asal pernikahan dilaksanakan di mushola yang ia bangun baik di mushola Abubakar Shiddiq maupun mushota Ridwan.
Tapi, jika pemberian bantuan itu akan merepotkan, bisa dikompensasi dalam bentuk rupiah. Tidak hanya itu, Maliki juga mempersilahkan mereka yang mempunyai hajat untuk memanfaatkan fasilitas yang ada, gratis. “Silahkan, siapa saja boleh melangsungkan pernikahan di sini dan memanfaatkan fasilitasnya,” terangnya.
Diakui Maliki, hingga saat ini sudah ada 7 pasangan yang melaksananan akad nikah di mushola yang ia bangun. dua kali di mushola Abu Bakar Shiddiq dan lima kali di mushola Ridwan. Bagi Maliki, apa yang ada di lingkungan mushola boleh dimanfaatkan oleh masyarakat tidak harus ketika mereka menggelar acara pernikahan, di luar waktu itupun diperkenankan.
“Bila ada yang senang memancing, silahkan mancing. Bila yang mancing dapat 10 ekor ikan, nanti Allah akan menggantinya dengan 100 ekor. Jadi kita akan terus beramal,” jelasnya.
Walau sudah memberi warna bagi kehidupan masyarakat, H. Maliki masih mempunyai impian yang hingga kini belum terwujud yakni membangun masjid unik di wilayah kota Mataram. Untuk mewujudkan hal itu, ia berharap ada bantuan dari pemerintah Kota Mataram dalam hal hibah lahan. “Jika pemerintah Kota Mataram mau menghibahkan sebidang tanah, Insya Allah saya akan mendanai pembangunan masjid unik. Masjid unik ini nantinya bisa menjadi destinasi wisata religi,” ujarnya.
Keyakinan itu bukan tanpa alasan. Pasalnya, kini mushola yang ia bangun sudah banyak dikunjungi para wisatawan baik lokal maupun manca negara, seperti dari Australia dan Jepang. Hal ini tak mengherankan karena tempat peribadatan dengan nuansa etnik Tionghoa hanya ada dua di Indonesia yakni masjid Ceng Ho di Surabaya dan dua mushola di Lombok.
“Mudah-mudahan, niat baik membangun masjid unik di Mataram dapat diwujudkan,” harap Maliki. Wallahu a’lam bissawab. ©️KyaiPamungkas.

KYAI PAMUNGKAS PARANORMAL (JASA SOLUSI PROBLEM HIDUP) Diantaranya: Asmara, Rumah Tangga, Aura, Pemikat, Karir, Bersih Diri, Pagar Diri, dll.
Kami TIDAK MELAYANI hal yg bertentangan dengan hukum di Indonesia. Misalnya: Pesugihan, Bank Gaib, Uang Gaib, Pindah Janin/Aborsi, Judi/Togel, Santet/Mencelakakan Orang, dll. (Bila melayani hal di atas = PALSU!)
NAMA DI KTP: Pamungkas (Boleh minta difoto/videokan KTP. Tidak bisa menunjukkan = PALSU!)
NO. TLP/WA: 0857-4646-8080 & 0812-1314-5001
(Selain 2 nomor di atas = PALSU!)
WEBSITE: paranormal-indonesia.com/
(Selain web di atas = PALSU!)
NAMA DI REKENING/WESTERN UNION: Pamungkas/Niswatin/Debi
(Selain 3 nama di atas = PALSU!)
ALAMAT PRAKTEK: Jl. Raya Condet, Gg Kweni No.31, RT.01/RW.03, Balekambang, Kramat Jati, Jakarta Timur.
(Tidak buka cabang, selain alamat di atas = PALSU!)