Ngaji Bareng Kyai Pamungkas

Ngaji Bareng Kyai Pamungkas: DIMENSI-DIMENSI MANUSIA

Ngaji Bareng Kyai Pamungkas:
DIMENSI-DIMENSI MANUSIA

Menurut para ahli sufi, pilihan kepada manusia untuk memegang amanah yang besar itu memang tidak salah alamat. lni berangkat dari kenyataan bahwa manusia merupakan sosok makhluk monodualis dimana jiwa dan raganya merupakan suatu kesatuan yang tak terpisahkan. Dari aspek jiwanya (al-Nafs), manusia memiliki cipta, rasa dan karsa yang memungkinkannya untuk membuat keputusan. Apakah itu sesuatu yang benar atau salah. Selain itu, manusia juga memiliki sifat benda mati (an’organis), tumbuh-tumbuhan (vagatatif) dan hewani (animal), oleh karena itu tingkah lakunya dikuasai oleh hukum alam dan di dorong oleh sifat baluriahnya. Sedang aspek lainya, maka manusia dapat menjadi makhluk individu, sosial, mandiri dan berTuhan.

Dan di dalam pandangan ahli Sufi, segala dimensi-dimensi yang di miliki manusia merupakan anugerah dari Allah SWT. Adapun, dimensi-dimensi itu adalah;

1 Dimensi keindividuan manusia (al-Syakhsyiyyah)

Kelahiran seorang anak manusia sudah barang tentu berbeda dengan kelahiran seekor binatang. Hal ini disebabkan manusia merupakan makhluk monodualis ciptaan Allah yang di tugaskan sebagai khalifah di muka bumi. Walau sejak bayi manusia diberi kondisi yang lemah, tetapi sebenarnya ia kaya dengan berbagai potensi. Di antaranya adalah potensi fisik berupa anatomi, konstruksi tubuh yang ideal, rohaniah berupa kemampuan untuk mencipta, berasa, berkarsa, berintuisi dan bakat-bakat. Tak cuma itu. ia juga terlindung oleh lingkungan yang kondusif berupa bangsa, suku, ras, adat-istiadat dan kebudayaan tertentu.

Tanpa kontribusi dari lingkungannya, terutama orang tua, saudara, keluarga, dan masyarakat sekitarnya, maka, akan sulit bagi seorang anak manusia dapat tumbuh dan berkembang menjadi individu yang baik. Oleh karena itu, masing-masing individu memiliki karakteristik yang berbeda antara satu dengan yang lainya. Dan di dalam membentuk jatidiri, maka, tiap individu akan berusaha mengambil jarak, memilih, merasa tertarik, mempertahankan dan mengolah secara pribadi semua pengaruh eksternal baik disengaja maupun tidak yang berkenaan dengan dirinya. inilah salah satu keistimewaan yang tidak dimiliki oleh makhluk lain, selain manusia.

Di dalam pandangan ahli sufi, perkembangan individu manusia tidak terlepas dari tiga hal. Yakni, daya cipta (kognisi ), rasa (emosi) dan karsa (konasi ). Seolah sudah menjadi suratan alam, individu manusia tidak akan selaras jika perkembangan daya ciptanya tidak disertai oleh rasa dan karsa. Jadi wajarjika manusia semacam ini biasa disebut sebagai manusia yang intelektualistik. Dan berbeda dengan individu yang kuat rasa emosinya. ia akan menjadi sosok yang emosional, tempra mental dan kurang mampu mengendalikan daya nalarnya. Sedang manusia yang kuat daya karsanya, tetapi tidak diimbangi dengan daya cipta dan rasanya, maka, ia disebut manusia yang bertipe gegabah. Betapa tidak, karena, tiap perbuatanya kurang didasari oleh pertim bangan akalnya.

2. Dimensi kesosialan (al-ljtimaiyyah)

Dalam pandangan ahli sufi, selain merupakan sosok makhluk monodualis, manusia juga termasuk dalam sosok monopluralis. Hal ini tampak dengan jelas. walau secara kodrati manusia dilahirkan dalam suku bangsa dan dengan adat kebudayaan tertentu, tetapi dia tetap sebagai sosok individu yang mandiri. Manusia hanya akan mempunyai arti jika dapat hidup di antara manusia lainnya, berkat interaksi dan

proses interdependensi dengan orang lain. Akibatnya, di dalam mempertahankan hidup dan berusaha mengejar kehidupan lebih baik, maka, hal itu baru dapat terealisasi berkat bantuan dan koordinasi dengan orang lain dalam sebuah lingkungan masyarakat.

Dan sebagai anggota suatu masyarakat, maka, tiap manusia berkewajiban untuk berperan aktif dan beradaptasi dengan lingkungan serta bekerja sama dengan masyarakatnya. Sebab antara manusia dan masyarakat merupakan rea|ita yang saling memajukan dan saling memperkembangkan. Karena pada dasarnya manusia memiliki dimensi kesosialan.

Dimensi kesosialan pada manusia, baik anak-anak maupun orang tua, akan tumbuh berkat adanya rasa saling membutuhkan untuk saling membantu atau saling melengkapi di antara mereka. Dengan kata lain, kekuatan manusia pada esensinya tidak terletak pada kemampuan fisik dan psikisnya saja, melainkan pada kemampuannya untuk bekerja sama dengan manusia lain.

Dengan interaksi dan interdependensi di dalam masyarakat itulah, maka, manusia pun menciptakan kebudayaan. Sebab, dimensi manusia yang utuh adalah manusia yang mampu mengembangkan hubungan dengan masyarakatnya secara selaras, serasi dan seimbang. Selaras dalam merefleksikan keadaan hubungan yang tertib, teratur. aman dan damai sehingga dalam mengejar kebahagiaan akan selalu terpelihara ketenteraman lahir dan batin. Serasi dalam menggambarkan terpadunya keadaan atau semua unsur-unsur yang terlibat dalam kehidupan bersama antara individu dan masyarakat. Dan seimbang dalam merefleksikan suatu keadaan dalam segala dimensi kehidupan maupun aplikasinya dalam realitas yang ada.

3. Dimensi kesusilaan (as-Suluky)

Dalam pandangan ahli sufi, sejak lahir, oleh Allah manusia telah dibekali akal yang berfungsi sebagai alat untuk menentukan baik dan tidak atas sebuah perbuatan yang dilakukannya. Ketepatan di dalam memutuskan untuk berbuat sesuatu yang pantas, belum merupakan jaminan bahwa ia pasti akan memilih berbuat baik. Sebab, manusia yang berkesusilaan adalah mereka yang memiliki, menghayati dan bertindak berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan. Oleh karena itu, manusia memiliki kebebasan untuk membedakan mana yang baik dan buruk, mana yang pantas dan tidak pantas dengan disertai rasa tanggung jawab di hadapan pencipta-Nya. Hal ini karena manusia dilahirkan dalam keadaan yang fitri atau suci.

Untuk ketenteraman peradaban manusia yang humanis, maka, manusia harus mengembangkan nilai-nilai universal (Universal Value) yang diakomodasi, diadaptasi dari nilai-nilai yang khas dalam budaya bangsanya. Artinya, nilai-nilai yang terkandung dalam pikiran-pikiran, ide-ide, gagasan yang terbukti baik dan berguna untuk menyelenggarakan hubungannya dengan sesama itu dapat terus dihayati dan diamalkan. Dan kemudian dalam proses hidup bermasyarakat, mengendap berkristalisasi dalam masyarakat suatu bangsa. Dengan demikian, akan terbentuklah suatu sistem nilai suatu budaya bangsa. Pendekatan dalam pengembangan nilai susila ini hendaknya terpadu, seimbang antara pendekatan endogenous (menimbulkan dari dalam), an conditioning (pembiasaan) serta bila perlu enforcement (pemaksaan).

4. Dimensi keberagaman (at-Tadayyun)

Dalam pandangan ahli sufi, pada hakekatnya, manusia adalah makhluk yang religius (homo religiosa). Dekat dan jauhnya hubungan manusia dengan Allah ditandai dengan tingkat keimanan dan ketakwaan manusia yang bersangkutan. Dimensi keberagamaan terwujud pada diri manusia karena pengakuan akan adanya sang Penciptanya dan perasaan wajib untuk berbakti melalui penyembahan (worship) -a dan hal ini diwujudkan dengan mengikuti segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya.

Gambar Ilustrasi

Namun harus dicatat, bahwa dimensi keagamaan ini tidak dapat terwujud dengan sendirinya. Tetapi tergantung pada kehendak-Nya, dengan bantuan para Nabi. Nabi adalah sosok manusia “super class“ yang tidak hanya mengenal jiwa manusia, tetapi juga mengendalikan dan menyalurkannya. Nabi membangkitkan beberapa sifat dalam jiwa manusia dan meningkatkan derajat kejiwaannya.

Karena tuntunan nabi, orang biadab menjadi beradab, orang kejam menjadi lunak dan orang terhina menjadi berharga bagi sekitarnya. Dari bimbingan para nabi, maka, aturan keberagamaan bisa dipahami dan dilaksanakan secara akurat dan tepat. Yang secara umum, dimensi keberagamaan ini dapat dilakukan melalui pendidikan keagamaan yang diselenggarakan oleh para agamawan. Wallahu a’lam. #KyaiPamungkas

Paranormal Terbaik Indonesia

Related posts

Surat Penggetar Hati Harun Al Rasyid

Kyai Pamungkas

Ngaji Bareng Kyai Pamungkas: Hakikat Setan

Kyai Pamungkas
error: Content is protected !!