Rona-rona

Makam Keramat Boru Siagian

MAKAM KERAMAT BORU SIAGIAN

Mungkin tak banyak yang tahu jika Tapanuli Selatan, ternyata memiliki banyak kisah menarik yang berhubungan dengan khasanah budayanya. Seiring dengan itu, kepercayaan akan hal-hal yang berbau mistik pun masih melekat erat di lingkungan masyarakatnya.

Salah satu diantara sekian banyak unsur mistik yang masih terasa sampai sekarang adalah kekeramatan makam Boru Siagian. Suatu makam yang diperkirakan berusia ratusan tahun terletak di dataran tinggi bumi Tapsel. Persisnya antara desa Aek Goti dan Sihapas. Dan jaraknya dari kota Salak, Padangsidempuan, sekitar 90 km menuju Kecamatan Barumun Tengan, Tapsel.

Percaya atau tidak, sebagian masyarakat Tapsel masih meyakini jika kuburan tua tersebut sebagai tempat yang dikeramatkan. Tak heran, jika pada waktu-waktu tertentu sampai kini kuburan tersebut masih sering diziarahi banyak orang.

“Dan karena diyakini sebagai tempat keramat dan memiliki tuah, maka jangan heran jika banyak orang bernazar untuk menziarahi kuburan ini,” begitu kata orang-orang yang berziarah di kuburan tersebut.

Menurut mereka banyak keajaiban yang bisa muncul bila menziarahinya. Misalnya, niat akan terkabul, enteng jodoh sampai-sampai rezeki pun lancar. Bahkan tak jarang, ada pula yang mengatakan aura kecantikan Boru Siagian akan ikut menyusup pada wajah peziarah perempuan, sehingga mereka bisa menjadi semakin cantik dan awet muda.

Banyak sudah yang terkabul hajatnya setelah berziarah ke tempat itu. Walau kedengarannya berbau tahayul, namun tetap saja banyak orang yang menyakininya. Dan karena memiliki cerita yang tersendiri, maka banyak yang menganggap kuburan Boru Siagian tersebut sebagai tempat keramat. Bermula dari cerita mulut ke mulut, dan akhirnya cerita itu menyebar hingga memancing orang dari berbagai pelosok untuk datang menziarahinya.. Dan menurut beberapa sumber yang dapat dipercaya, tokoh masyarakat bermarga Harahap adalah sosok yang pertama kali meyakini bahwa tempat itu memiliki aura keramat.

Kala itu, sekitar tahun 1980-an, ternak yang hidup di Padang Lawas dilanda wabah penyakit. Boleh dikata hampir seluruh ternak mati tanpa diketahui jenis penyakitnya. Melihat keadaan itu, tokoh masyarakat yang kebetulan punya banyak ternak langsung mengucapkan nazarnya. Ia akan menziarahi kuburan Boru Siagian jika seluruh ternak miliknya selamat dari wabah penyakit. Entah kebetulan atau karena hal lain, ternyata, tak seekor pun ternak miliknya mati walau wabah penyakit yang tidak jelas itu sudah sempat memusnahkan banyak hewan ternak di daerah tersebut.

Dan sesuai dengan janjinya, tokoh masyarakat yang bermarga Harahap itu berziarah ke kuburan Boru Siagian yang terletak di atas perbukitan dan berbalut semak belukar, sejak itu pula ia selalu datang untuk merawatnya.

Dan keterangan yang amat berharga akhirnya berhasil paranormal-indonesia.com dapatkan dari masyarakat yang punya garis silsilah sejarah dengan makam Boru Siagian. Sosok ini ternyata mempunyai nama lengkap Rostiani Boru Siagian dan lazim dipanggil sebagai Boru Siagian. Dia berasal dari desa kecil. Tepatnya di Desa Pasir Siampolu di Pal XI Padangsidempuan, Tapanuli Selatan. Dan dari keterangan Iain yang berhasil digali memaparkan, orang tua Boru Siagian berasal dari satu desa kecil dan terpencil di bilangan Tapanuli Utara. Tepatnya di Desa Hopong, Kecamatan Pahae Jae, dan terletak di pedalaman perbatasan Tapsel dan Taput serta dikenal sebagai salah satu desa dari leluhur marga Siagian.

Sedang suaminya yang bermarga Harahap itu adalah warga Desa Morang, Panompuan, Kecamatan Padangsidempuan Timur, yang berhasil menyuntingnya dengan suatu perjuangan yang teramat berat, panjang disertai dengan persaingan yang demikian ketat. Dari desa ini, akhirnya Harahap dan Boro Siagian pindah ke desa Tanjung Morang, Aek Manggu, yang juga dikenal dengan sebutan Kampung Lembah, di Kecamatan Barumun Tengah.

Bagi sosok pria yang bermarga Harahap, persaingan ketat untuk mempersunting Boru Siagian terasa begitu melelahkan. Apalagi keadaan waktu itu memaksanya harus menggunakan cara markusip yang secara harfiah dalam bahasa Tapanuli Selatan berarti berbisik-bisik yang sekaligus membutuhkan penguasaan terhadap segudang pantun romantis.

Walau waktu telah lumayan lama berlalu, tetapi rayuan markusip yang dilancarkan oleh Harahap belum juga membuahkan hasil. Ternyata, Boru Siagian yang juga kembang desa itu tak mudah termakan oleh rayuan. Saat itu, di benak Harahap muncul ide untuk menabur janji demi memikat si pujaan hati. Dan kali ini, sang gadis pun mulai tergerak hatinya untuk menyambut datangnya sang dewa cinta yang akan merengkuhnya.

Dari bilik dinding, sang jejaka pun melancarkan rayuan dengan mengatakan, “Dik tak perlu ada yang kau ragukan dariku. Rumah kami dari kaca dan setiap habis makan kami selalu membuang piringnya. Jadi apalagi yang kau risaukan?”

Gayung pun bersambut. Tergugah karena akan menjadi putri di istana yang megah, Boru Siagian pun menerima pinangan Harahap. Pernikahan pun segera dilakukan dengan membawa Boru Siagian ke kampung halamannya di Desa Morang, Panompuan. Setelah menjadi istri Harahap, barulah Boru Siagian menyadari bahwa dirinya telah menjadi korban rayuan gombal. Namun setelah dipertimbangkan masak-masak, ternyata, gombal si Harahap juga punya kebenaran.

Betapa tidak, rumah kaca yang dimaksud adalah gubuk yang beratapkan langit Sementara piring yang selalu dibuang sehabis makan adalah daun pisang. Waktu terus saja berlalu. Selang beberapa waktu kemudian, mendadak, Boru Siagian pun diserang oleh rasa rindu yang teramat sangat pada kampung halamannya. Hampir tiap hari, ia selalu merengek agar diperkenankan pulang walau hanya sesaat. Singkat cerita, akhirnya Boru Siagian pun jatuh sakit karena permintaannya tak pernah dikabulkan oleh sang suami. Hingga pada suatu hari, Boru Siagian pun meninggal dunia dengan membawa sejuta impian untuk pulang ke kampung halamannya.

Keajaiban pun terjadi. Saat akan dimakamkan di Desa Tanjung Morang, Aek Manggu, tempat di mana mereka tinggal, entah kenapa, walau telah dikerahkan seluruh pemuda berbadan tegap dan kekar yang ada di desa itu, tetapi jasad Boru Siagian tetap tak bergeming dari tempatnya. Melihat kejadian itu, para datu (dukun-red) dan orang pintar pun Iangsung dikerahkan. Tetapi hasilnya tetap saja sama. Jasad Boru Siagian tetap tak bergeming dari tempatnya.

Beruntung, salah seorang tetua desa teringat akan permintaan Boru Siagian semasa hidup. Ia mengusulkan agar jasad Boru Siagian dikuburkan di dataran tinggi atau perbukitan, sehingga, dari bukit itu ia seolah bisa melihat kampung halaman yang amat dirindukannya Benar saja, setelah kuburannya dipersiapkan di perbukitan, jasadnya mendadak dengan mudah dapat diangkat dan dikuburkan.

Dan sampai kini, kuburan Boru Siagian yang berada di atas bukit antara Desa Aek Goti dan Sihapas, Tapanuli Selatan itu masih dapat dijumpai. Kuburan yang berukuran sekitar 3 meter itu berdiri anggun di suatu tempat yang berudara sejuk dengan angin sepoi-sepoi yang tak pernah henti berhembus. Seperti biasa, para peziarah yang datang selalu disarankan agar tetap berlaku sopan, dan dilarang keras mengucapkan kata-kata kotor apa lagi melakukan perbuatan yang tidak senonoh. ©️KyaiPamungkas

Paranormal Terbaik Indonesia

Related posts

Buang Sial di Sendang Keramat

Kyai Pamungkas

Mitos di Zaman Kekinian

Kyai Pamungkas

Batu Bertuah: Batu Kecubung, Batu Rubi & Batu Rubah

Kyai Pamungkas
error: Content is protected !!